salju

Selasa, 18 Juni 2013

PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN TERNAK


PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN TERNAK
1. Pengantar
Pada modul ini dikemukakan tentang pengetahuan tentang bahan
makanan ternak, dimana aspek pengetahuan ini akan sangat penting bagi
mahasiswa dan praktisi peternakan dalam hal efisiensi dan mempertahankan
produktivitas ternak yang dipelihara. Untuk mengarah pada hal tersebut, maka
pada modul ini akan dibahas tentang : (1) Komponen penyusun bahan makanan
ternak (BMT); (2) Klasifikasi/penggolongan bahan makanan ternak; (3)
Pengenalan BMT jenis hijauan; (4) BMT sumber protein dan sumber energi; (5)
Bahan Baku Sumber Mineral dan Pelengkap/Tambahan. Untuk melengkapinya,
maka dalam modul ini ditambahkan materi Cara Memilih Bahan Pakan yang
Murah dan Prinsip Formulasi Ransum. Aspek pengetahuan bahan makanan ternak
yang akan disampaikan merupakan dasar pedoman bagi praktisi peternakan di
lapang, baik bekerja di perusahaan maupun bekerja secara mandiri.
2. Tujuan Instruksional Umum
Dalam modul ini anda dibantu dalam memahami berbagai jenis bahan
makanan ternak dalam hal ini penggolongannya baik pada ternak Ruminansia dan
Non Ruminansia baik yang berasal darihijauan, biji-bijian, limbah industri,
limbah pertanian, hijauan segar dan yang diawetkan.
3. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari modul ini anda diharapkan dapat :
a.  Menjelaskan komponen penyusun bahan makanan ternak.
b.  Menjelaskan klasifikasi/penggolongan bahan makanan ternak.
c.  Menjelaskan bahan makanan ternak jenis hijauan.
d.  Menjelaskan bahan makanan ternak sumber protein dan sumber energi.
e.  Menjelaskan bahan baku sumber mineral dan pelengkap/tambahan
f.  Menjelaskan Cara Memilih Bahan Pakan yang Murah dan Prinsip
Formulasi Ransum
MK TNK 306/Modul 1  1
4. Kegiatan Belajar
4.1 Kegiatan Belajar1
KOMPONEN PENYUSUN BAHAN MAKANAN TERNAK
4.1.1 Uraian dan Contoh
Zat makanan atau zat nutrisiadalah penyusun bahan pakan yang
umumnya mempunyai komposisi kimia yang serupa untuk keperluan hidup.
Sesuai dengan komposisi kimia utama tubuh ternak, maka suatu bahan yang akan
digunakan sebagai bahan pakan memiliki salah satu atau seluruh fraksi seperti
dibawah ini.
ORGANIK :
-  Protein
-  Lemak
-  Karbohidrat
-  Vitamin  BAHAN
KERING
AIR
PAKAN
AN-ORGANIK : Mineral
Air  - sebagian tersedia dalam bahan pakan (air metabolis)
- diberikan terpisah sebagai air minum
- harus bebas dari pengaruh garam
Karbohidrat  - dibutuhkan untuk energi, panas tubuh, sintesis lemak
Lemak  - untuk meningkatkan ketersediaan energi dalam tubuh
Protein  - untuk sintesis jaringan tubuh, pertumbuhan dan perbaikan
jaringan rusak
- produksi daging, telur, susu
Mineral  - untuk perkembangan jaringan tulang
- untuk maintenance
- sangat penting untuk fisiologis tubuh
Vitamin  - dibutuhkan dalam jumlah kecil
- berfungsi sebagai : ko-enzym dan regulator metabolis
MK TNK 306/Modul 1  2
Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai
dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan
berproduksi secara normal. Zat nutrisi yang perlu diperhatikan pada ternak adalah
: bahan kering (BK), energi, protein, mineral, dan vitamin. Unsur-unsur nutrisi
tersebut dapat diketahui melalui prosesanalisis terhadap bahan pakan yang
dilakukan di laboratorium.
4.1.2  Analisis Kimia
Komponen penyusun bahan makanan dapat dipisahkan dan ditentukan
kandungannya berdasarkan analisis laboratorium. Ada 2 metode yang banyak
digunakan di laboratorium, yaitu : analisis proksimat dan analisis serat.
4.1.2.1 Analisis Proksimat
Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1965
di Weende Experiment Station, sehingga metode ini dikenal juga dengan nama
“Analisis Proksimat Weende”. Analisis ini didasarkan atas komposisi kimia dari
bahan makanan dengan skema sebagai berikut :
Bahan Makanan
Bahan Kering
Lemak  Nitrogen
Asam
Residu
Basa
Abu dan Serat Kasar
Abu  Serat Kasar
Pemanasan 105
0
C
Eter Ekstraksi
Kjehdahl
Pembakaran
MK TNK 306/Modul 1  3
Bahan Ekstrak Tiada N (BETN) dapat ditentukan dari bahan kering yang
dikurangi protein, lemak, serat kasar, dan abu. Analisis proksimat terhadap bahan
pakan akan menghasilkan data-data tentang nutrisi yang terkandung dalam bahan
pakan tersebut dan berapa besar konsentrasinya. Data-data ini akan membantu kita
mempersiapkan dan mengelola pakan ternak, terutama dalam meramu bahan
pakan yang dibutuhkan oleh ternak sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
4.1.2.2 Analisis Serat
Van Soest dan Moore menguraikan lebih lanjut komponene dinding sel
menjadi serat-serat sehingga analisis tersebut lebih dikenal dengan “Analisis Serat
Van Soest”. Adapun bagan analisis tersebut adalah sebagai berikut :
Detergen netral
NDS
Neutral Detergent Soluble
Atau Isi Sel
Detergen Asam
ADS
Acid Detergen Soluble
Isi : Hemiselulose
(dinding sel yang mengandung
nitrogen)
Acid Insoluble
Isi : lignin
72% H2SO4
Soluble
Isi : Selulose
ADF
Acid Detergen Insoluble Fiber
Isi : Lignoselulose
NDF
Neutral Detergent Fiber
Atau Dinding Sel
Bahan Makanan
MK TNK 306/Modul 1  4
Selanjutnya secara umum komponen-komponen penyusun bahan makanan ternak
melalui analisis proksimat dan analisisVan Soest dapat digambarkan sebagai
berikut :
FRAKSI-FRAKSI BAHAN KERING MAKANAN TERNAK
Komponen Analisis
Proksimat
Fraksi Kimia  Fraksi Van Soest
Abu-1  Abu Larut dalam
detergen
Isi Sel
Neutral Detergen Soluble
Ekstrak Eter  Trigliserida
Pigmen, dll.
Gula
Pati
Pektin
Hemiselulose  Acid Detergen Soluble
Bahan Ekstrak Tiada
Nitorgen
OH-soluble
OH-insoluble
Lignin
Serat Kasar
Selulose  Acid Detergen Fiber
Abu-2  Abu tidak larut dalam
detergen
Dinding sel
Neutral Detergen Soluble
Keterangan :
Abu-1 dan Abu-2 = Total abu
4.1.2 Latihan 1
a.  Sebutkan komponen utama penyusun bahan makanan ternak !
b.  Bagaimana metode untuk mendapatkan data-data kandungan bahan
makanan ternak yang akurat ?
c.  Bagaimana fraksi BETN dapat diketahui ?
d.  Sebutkan hasil analisis kimia bahan makanan ternak menurut Van Soest !
4.1.3 Petunjuk Latihan 1
1.  Komponen penyusun bahan makanan ternak terdiri dari air dan bahan
kering.
MK TNK 306/Modul 1  5
2.  Data-data kandungan bahan makanan ternak dapat diperoleh melalui :
analisis laboratorium.
3.  BETN = Bahan kering – (protein, lemak, serat kasar, abu)
4.  Kandungan hemiselulose, selulose dan lignin.
4.1.4 Rangkuman
1.  Bahan makanan ternak terdiri dari 2 komponen utama yaitu : air dan bahan
kering. Komponen yang menjadi bagian bahan kering terdiri dari bahan
organik (protein, lemak, karbohidrat, vitamin) dan bahan an-organik (mineral)
2.  Data komposisi zat makanan penyusun suatu bahan dapat lebih akurat
diketahui melalui proses analisis kimia di laboratorium. Karena hasil analisa
merupakan kondisi yang sesuai dengan bahan pada saat tersebut.
3.  Melalui proses analisis proksimat dapat dihasilkan data kandungan protein,
lemak, serat dan abu. Berdasar hasil  tersebut dapat diketahui kandungan
BETN dengan perhitunagn sebagai berikut BETN = Bahan kering – (protein,
lemak, serat kasar, abu)
4.  Melalui rangkain proses analisis Van Soest dapat diketahu fraksi bahan yang
memisahkan antara komponen dinding dan isi sel. Komponen dinding sel
merupakan bagian sel tanaman yang mempunyai fraksi yang dapat dicerna
oleh ternak yaitu selulose dan hemiselulose, sedangkan komponen lignin
terpisah sebagai bagian yang tidak dapat dicerna mikroba rumen.
4.1.5 Tes Formatif
Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benardan S jika pernyataan salah.
1.  B – S Air bukan merupakan zat penyusun bahan makanan ternak.
2.  B – S Kandungan zat kimia bahan makanan ternak sangat berhubungan
dengan kualitas dan penggunaannya dalam pakan.
3.  B – S Untuk mengetahui kandungan suatu bahan hanya dapat dilakukan
dengan cara analisa laboratorium
4.  B – S Salah satu tujuan analisa bahan adalah untuk mengetahui
karakteristik bahan dengan lebih baik
5.  B – S Selain kandungan zat makanan, kualitas bahan makanan ternak juga
dipengaruhi oleh batasan penggunaan dalam pakan.
6.  B – S Kandungan anti nutrisi dapat dikurangi pengaruhnya dengan
MK TNK 306/Modul 1  6
melakukan prosesing terhadap bahan.
7.  B – S Kualitas dan kuantitas suatu bahan juga sangat dipengaruhi oleh
faktor musim
8.  B – S Pakan yang diberikan selama 24 jam dengan frekuensi pemberian
tertentu merupakan pengertian ransum
9.  B – S Pertukaran nutrisi terjadi setelah bahan masuk dalam tubuh ternak
10.  B – S Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat
dicerna sebagian atau seluruhnya, dan bermanfaat bagi ternak.
4.1.6 Umpan Balik dan Tidak Lanjut
Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang
terdapat di bagian belakang dari modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar
dan kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan
anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1 ini.
Rumus :
Jumlah jawaban anda yang benar
Tingkat Penguasaan = ------------------------------------------- x 100 %
10
Arti tingkat penguasaan yang anda capai :
90% - 100% = baik sekali
80% - 89% = baik
70% - 79% = sedang
< 69% = kurang
Jika tingkat penguasaan anda mencapai 80% ke atas, anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Tetapi bila tingkat penguasaan anda
masih di bawah 80%, anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian
yang belum anda kuasai.
MK TNK 306/Modul 1  7
4.2 Kegiatan Belajar 2
KLASIFIKASI/PENGGOLONGAN BAHAN MAKANAN TERNAK
4.2.1 Uraian dan Contoh
Bahan makanan ternak merupakan penyusun ransum untuk memenuhi
kebutuhan ternak akan zat-zat makanan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan,
aktivitas, reproduksi maupun produksi sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Bahan
makanan ternak dapat diklasifikasikan atas dasar :
a.  Asal bahan
b.  Karakteristik Fisik, Kimia dan penggunaannya
4.2.1.1 Klasifikasi Baham Makanan Ternak berdasarkan asalnya
Secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar
yaitu : bahan makanan asal tanaman dan asal hewan, disamping ada kelompok
makanan tambahan dan stimulator pertumbuhan sebagai kelengkapan kedua
kelompok tersebut.
I. Bahan Makanan Ternak Asal Tanaman
a.  Hijauan segar
b.  Hijauan kering
c.  Hijauan awetan
d.  Jerami
e.  Umbi-umbian
f.  Butir-butiran/biji-bijian: padi, legiminosa
g.  Kulit butir-butiran dan biji-bijian
h.  Hasil ikutan hasil pertanian
i.  Hasil ikutan industri minyak tanaman
j.  Hasil ikutan industri lain
II. Bahan Makanan Ternak Asal Hewan
a.  Asal ikan
b.  Asal ternak/hewan lain
MK TNK 306/Modul 1  8
III. Makanan tambahan
IV. Stimulator pertumbuhan dan produksi
4.2.1.2 Klasifikasi Baham Makanan Ternak berdasarkan karakteristik
kimia, fisik dan penggunaannya
Pengelompokan bahan makanan ini didasarkan atas kegunaannya, karena
bahan tersebut mengandung komponen penyusun yang lebih menonjol disamping
karakteristik fisiknya. Klasifikasi ini lebih dikenal dengan klasifikasi atau kelas-kelas Bahan Makanan Ternak Internasional. Adapun pengelompokannya sebagai
berikut :
1.  Hijau kering dan jerami : yang termasuk dalam kelas ini adalah semua hay,
jerami kering, dry fodder ( bagian aerial dari tanaman jagung atau
sorghum ), dry stover ( bagian aerial tanpa biji dari tanaman jagung atau
sorghum ), sekam, kulit biji polongan, dan semua bahan pakan kering yang
mengandung lebih dari 35 % dinding sel.
2.  Pasture ( hijauan ), ramban : yang termasuk dalam kelas ini adalah semua
tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijaun atau hijauan segar.
3.  Silase : yang termasuk kelas ini adalah semua pakan hijauan yang
dipotong-potong atau dicacah-cacah dan difermentasikan , tetapi tidak
termasuk silase ikan , biji-bijian, akar-akaran dan umbi-umbian.
4.  Sumber energi : yang termasuk kelas ini adalah semua biji-bijian , hasil
ikutannya,umbi-umbian kacang-kacangan,buah-buahan,akar-akaran,yang
mengandung protein kasar kurang dari 20 % dan serat kasar kurang dari
18 % atau dinding sel kurang dari 35%
5.  Sumber protein : yang termasuk kelas ini adalah semua bahan pakan yang
mempunyai kandungan protein 20 % ataulebih dan dapat berasal dari
tanaman , hewan, ikan, susu.
6.  Sumber mineral
7.  Sumber vitamin
MK TNK 306/Modul 1  9
8.  Additive : yaitu zat-zat tertentu yang ditambahkan dalam ransum seperti
antibiotika , hormon,bahan-bahan pewarna dan pengharum dan obat-obatan.
4.2.1.3 Penggolongan Bahan Makanan Ternak khusus Ternak Ruminansia
Bahan pakan untuk ternak ruminansia dibagi atas dua golongan yaitu bahan
pakan kasar dan bahan dasar penguat. Namun dalam praktek di lapangan, kedua
bahan tersebut membutuhkan bahan tambahan untuk melengkapi kebutuhan
ternak.
a.  Bahan Pakan Kasar (Serat Kasar)
Bahan ini merupakan pakan utama bagiternak ruminansia. Kita mengenal
pakan kasar ini dalam bentuk pakan hijauan. Pakan hijauan ialah semua bahan
pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan,
terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga. Yang termasuk kelompok pakan
hijauan ialah bangsarumput (gramineae), kacang-kacangan (legume), daun-daunan, dan limbah pertanian. Semuanya bisa diberikan dalam dua bentuk,
yakni hijauan segar atau kering. Yang termasuk hijauan segar adalah hijauan yang
diberikan dalam keadaan masih segar, ataupun berupa silase. Sedangkan hijauan
kering bisa berupa hay(hijauan yang sengaja dikeringkan) ataupun jerami kering
(sisa hasil ikutan pertanian yang dikeringkan). Hijauan sebagai bahan pakan
ternak sapi di Indonesia memegang peranan yang amat penting karena hijauan
mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Bahan ini diberikan
dalam jumlah yang besar sesuai kebutuhan ternak.
Perkembangan teknologi pakan ternak ruminansia menunjukkan banyak
alternatif bahan makanan ternaksumber serat kasar, yaitu :
a.  Rumput-rumputan : antara lain  rumput lapangan, rumput gajah,
rumput benggala, Brachiaria,dan lain-lainnya.
b.  Leguminosa antara lain : daun turi, dan lamtoro, daun kaliandra, daun
gliricidia, stylosanthes, centro dan lain-lainnya.
c.  Daun-daunnan ( rambanan ) antara lain : daun nangka, daun pisang,
daun waru dan sebagainya .
MK TNK 306/Modul 1  10
d.  Limbah pertanian : jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah,
jerami kacang kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk tebu
dan lain-lain.
Bahan pakan kasar ini umumnya mengandung serat kasar ( selulosa
dan hemiselulosa ) yang tinggi. Ruminansia dapat menggunakan selulosa dan
polimer-polimer dari tanam-tanaman, yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim
yang dihasilkan tubuh hewan, sebagai sumber energi, karena adanya proses
fermentasi oleh mikroba diperut depan yaitu dirumen, retikulum dan umasum .
kurang lebih 90 % pencernaan selulosa terjadi diperut depan. Selain sebagai
sumber energi, pakan kasar merupakan stimulus fisik bagi perkembangan
kapasitas rumen. Sedangkan Volatyl Fatty Acids (VFA) yang merupakan hasil
fermentasi selulosa di dalam rumen, merupakan stimulus kimia bagi
perkembangan papila rumen.
b.  Bahan pakan penguat (pakan konsentrat)
Pakan penguat adalah pakan yangberkonsentrasi tinggi dengan kadar
serat kasar yang relatif rendah dan  mudah dicerna. Fungsinya adalah
meningkatkan dan memperkaya (pelengkap)nilai gizi pada bahan pakan lain
(hijauan) yang nilai gizinya rendah. Bahan pakan penguat merupakan pakan
pelengkap bagi ruminansia, sebab tidak semua zat-zat makanan dapat dipenuhi
oleh rumput atau hijauan. Sehingga untuk menutup kekurangan tersebut perlu
ditambahkan pakan penguat yang tersusun dari berbagai bahan pakan biji-bijian
dan hasil ikutan pengolahan hasil pertanian maupun industri. Bahan pakan
penguat ini mengandung serat kasar rendah , kandungan proteinnya relatif tinggi
dan mudah dicerna bila dibandingkan dengan hijauan maupun rumput.pakan
penguat dibedakan menjadi konsentrat sumber energi dan konsentrat sumber
protein.
Konsentrat sumber energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein
kasar kurang dari 20 % dan mengandung serat kasar kurang dari 18%. sebagai
contoh adalah bekatul, dedak, pollard, onggok, empok, molases, jagung, shorgum
dan sebagainya. Konsentrat sumber protein yaitu bahan-bahan yang mengandung
MK TNK 306/Modul 1  11
protein kasar 20 % atau lebih. Contoh : bungkil kedele, bungkil kelapa , bungkil
kapuk, bungkil kacang, tepung ikan dan lain-lain.
Suatu contoh pada ternak sapi yang sedang tumbuh ataupun yang sedang
dalam periode penggemukan harus diberikan pakan penguat yang cukup, oleh
karena itu pada sistem dry lot fattening diberikan justru sebagian besar pakan
berupa pakan penguat atau konsentrat.
c. Pakan tambahan (pakan additive)
Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa : vitamin, mineral, dan
urea (Nutrient additive); antibiotika, hormon, enzim, dan probiotik (Non Nutrient
additive). Pakan tambahan ini seringkali digunakan pada sapi yang dipelihara
secara intensif, yang hidupnya berada di dalam kandang terus menerus.
Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah vitamin A (karotina) dan
vitamin D. Sedangkan mineral sebagai bahan pakan tambahan dibutuhkan untuk
berproduksi, terutama Ca dan P. Tepung tulang (sumber Ca dan P), kapur biasa
atau kapur tembok (CaCO3) (sumber Ca), dicalcium phosphat/ kapur makan
(sumber Ca dan P) bisa diberikan kepada sapi. Pada umumnya pakan tambahan
vitamin dan mineral berupa feed–supplement/ vit-min mix.
Urea sebagai bahan pakan tambahan hanya bisa diberikan kepada sapi
dalam jumlah yang sangat terbatas, yakni 1-2 % (maksimal) dari BK ransum. Jika
terlalu banyak, sapi bisa keracunan. Urea mengandung 45% N. Penggunaannya
harus diimbangi ketersediaan bahan pakan yang kaya karbohidrat (bekatul, tetes,
gaplek).
Penggunaan antibiotika(mis : chlortetracyclin, oxytetracyclin, penicilin)
dalam usaha peternakan sudah cukup meluas. Antibiotika pada dasarnya bukanlah
makanan dan efek terhadap makanan adalah sekunder. Mekanisme kerja
antibiotika cukup menguntungkan bila diberikan/ditambahkan dalam makanan
sapi. Dalam upaya untuk mempercepat  produksi daging sapi, juga banyak
digunakan hormonpertumbuhan dalam penggemukan sapi. Hormon sintetis
stilbestrol dalam aplikasinya memberikan efisiensi pakan yang lebih baik. Pada
saat ini juga telah berkembang pemanfaatan probiotik pada ternak ruminansia.
MK TNK 306/Modul 1  12
Probiotik merupakan alternatif dalam metode manipulasi fungsi saluran
pencernaan. Aplikasi dilapang membutuhkan pertimbangan ekonomis mengingat
nilai manfaat yang belum teruji secara luas.
4.2.2 Latihan 2
a.  Berdasar apa bahan makanan ternak dapat diklasifikasikan ?
b.  Meskipun terdiri dari dua kelompok besar, bahan makanan ternak dapat
dikelompokkan menjadi 4 golongan, sebutkan !!
c.  Bagaimana menentukan suatu bahan termasuk dalam kelompok sumber
energi dan protein ?
4.2.3 Petunjuk Latihan 2
a.  Klasifikasi bahan makanan ternak berdasar asal dan karakteristiknya.
b.  Asal tanaman, hewan, tambahan, dan stimulator.
c.  Analisa kandungan protein dan serat kasar merupakan suatu bahan dapat
digunakan sebagai dasar suatu bahan termasuk dalam sumber energi atau
protein
4.2.4 Rangkuman
1.  Dua kelompok besar yaitu : bahan makanan asal tanaman dan asal hewan,
disamping ada kelompok makanan dan stimulator pertumbuhan sebagai
kelengkapan kedua kelompok tersebut. Bahan Makanan Ternak Asal Tanaman
: Hijauan segar, Hijauan kering, Hijauan awetan, Jerami, Umbi-umbian, Butir-butiran/biji-bijian : padi, legiminosa, Kulit butir-butiran dan biji-bijian, Hasil
ikutan hasil pertanian, Hasil ikutanindustri minyak tanaman, Hasil ikutan
industri lain. Bahan Makanan Ternak  Asal Hewan : Asal ikan dan Asal
ternak/hewan lain. Makanan tambahan dan Stimulator pertumbuhan dan
produksi
2.  Kelas-kelas Bahan Makanan Ternak Internasional. Adapun
pengelompokannya sebagai berikut :
a.  Hijau kering dan jerami
MK TNK 306/Modul 1  13
b.  Pasture ( hijauan )
c.  Silase
d.  Sumber energi
e.  Sumber protein
f.  Sumber mineral
g.  Sumber vitamin
h.  Additive
3.  Bahan pakan untuk ternak ruminansia dibagi atas dua golongan yaitu bahan
pakan kasar dan bahan dasar penguat.Namun dalam praktek di lapangan,
kedua bahan tersebut membutuhkan bahan tambahan untuk melengkapi
kebutuhan ternak.
a.  Bahan Pakan Kasar (Serat Kasar)
Bahan ini merupakan pakan utama bagiternak ruminansia. Kita mengenal
pakan kasar ini dalam bentuk pakan hijauan. Pakan hijauan ialah semua
bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga.
Perkembangan teknologi pakan ternak ruminansia menunjukkan banyak
alternatif bahan makanan ternaksumber serat kasar, yaitu :
a.  Rumput-rumputan : antara lain  rumput lapangan, rumput gajah,
rumput benggala, Brachiaria,dan lain-lainnya.
b.  Leguminosa antara lain : daun turi, dan lamtoro, daun kaliandra, daun
gliricidia, stylosanthes, centro dan lain-lainnya.
c.  Daun-daunnan (rambanan) antara lain : daun nangka, daun pisang,
daun waru dan sebagainya .
d.  Limbah pertanian : jerami padi, jerami jagung, jerami kacang
tanah,jerami kacang kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk
tebu dan lain-lain.
b.  Bahan pakan penguat (pakan konsentrat)
Pakan penguat adalah pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar
serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Konsentrat sumber
energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein kasar kurang dari 20
MK TNK 306/Modul 1  14
% dan mengandung serat kasar kurang dari18%. sebagai contoh adalah
bekatul, dedak, pollard, onggok, empok, molases, jagung, shorgum dan
sebagainya. Konsentrat sumber protein yaitu bahan-bahan yang
mengandung protein kasar 20 % ataulebih. Contoh : bungkil kedele,
bungkil kelapa , bungkil kapuk, bungkil kacang, tepung ikan dan lain-lain.
c. Pakan tambahan (pakan additive)
Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa : vitamin, mineral, dan
urea (Nutrient additive); antibiotika, hormon, enzim, dan probiotik (Non
Nutrient additive).
4.2.5 Tes Formatif 2
Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benardan S jika pernyataan salah.
1.  B – S Dalam pengetahuan bahan makanan ternak tidak perlu adanya
klasifikasi makanan tambahan dan stimulir pertumbuhan
2.  B – S Silase merupakan jenis bahan makanan yang tidak tidak termasuk
dalam klasifikasi hijauan
3.  B – S Yang termasuk kelas Sumber protein adalah semua bahan pakan
yang mempunyai kandungan protein 20 % atau lebih dan dapat
berasal dari tanaman , hewan, ikan, susu.
4.  B – S Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman
berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga.
5.  B – S Konsentrat untuk ternak ruminansia mengandung bahan sumber
energi saja.
6.  B – S Fungsinya pakan penguat pada ternak ruminansia adalah
meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan hijauan.
7.  B – S Pada umumnya pakan tambahan vitamin dan mineral berupa feed–
supplement/ vit-min mix.
8.  B – S Antibiotika pada dasarnya bukanlah makanan dan efek terhadap
makanan adalah sekunder.
9.  B – S Jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kacang
kedele, daun ubi jalar, daun ketela pohon, pucuk tebu termasuk kelas
limbah pertanian
10.  B – S Bahan pakan additive dipergunakan untuk melengkapi kekurangan
kandungan zat makanan dalam ransum
4.2.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 2 yang
terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan
MK TNK 306/Modul 1  15
kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda
terhadap materi Kegiatan Belajar 2 ini.
Rumus :
Jumlah Jawaban Anda yang benar
Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :
90% - 100% = baik sekali
80% - 89% = baik
70% - 79% = sedang
< 69% = kurang
Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda
masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 2, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.
MK TNK 306/Modul 1  16
4.3 Kegiatan Belajar 3
BAHAN MAKANAN TERNAK JENIS HIJAUAN
4.3.1 Uraian dan Contoh
Yang dimaksud dengan hijauan makanan ternak adalah bahan makanan
asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan
sebagai makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak.
Penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia merupakan suatu faktor
penting bagi keberhasilan dalam pemeliharaan. Untuk itu dibutuhkan kualitas
hijauan yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Beberapa faktor yang harus
diperhatikan dalam pengelolaan tanaman makanan ternak adalah :
1.  Pengolahan lahan
2.  Penyediaan bibit dan cara penanamannya
3.  Pemeliharaan, meliputi : penyulaman, pengairan, penyiangan, pemupukan
dan pemberantasan hama penyakit.
4.  Pemungutan hasil panen, meliputi : pengukuran produksi dan cara
pemanenannya.
Hijauan makanan ternak, biasa diberikan dalam keadaan segar dengan
kualitas yang memadai, merupakan makanan pokok ternak ruminansia dan non
ruminansia herbivora. Dalam keadaan berlebihan hijauan segar dapat dikeringkan
atau diawetkan, sehingga masih dapat digunakan sebagai persediaan bahan
makanan ternak, khususnya padawa waktu terbatasnya persediaan hijauan segar.
Secara umum, hijauan mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.  Sifatnya bulky, yaitu mempunyai berat rendah per unit volume.
b.  Serat kasar tinggi ( > 18%)
c.  Energi rendah bila dibandingkan dengan makanan penguat.
d.  Mineral, umumnya kandungan kalsium,potasium dan trace mineral
lebih tinggi dibanding konsentrat, tetapikandungan fosfor rendah.
e.  Vitamin, kandungan vitamin yang larut lemak tinggi, terutama untuk
leguminosa kaya akan vitamin B.
MK TNK 306/Modul 1  17
f.  Protein, bervariasi. Leguminosa dapat mencapai 20% atau lebih,
sebaliknya jerami hanya mengandung 3-4 % protein kasar.
4.3.1.1 Pengaruh Umur Pemotongan terhadap Kualitas Hijauan
Salah satu faktor penentu kualitas hijauan namun seringkali kurang
mendapat perhatian adalah proses pemanenan. Proses pemanenan pada hijauan
tergantung pada jenis hijauan yang ditanam dan tentunya sistem atau manajemen
dalam pengelolaan hijauan. Berdasarkan pola pertumbuhan yang dimiliki masing-masing species, maka faktor umur tanaman merupakan faktor penting yang harus
diperhatikan dalam menentukan jadwal pemotongan.
Tingkat kedewasaan (kematangan atauumur) adalah salah satu faktor
yang penting dan mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak. Ada suatu
tingkat kedewasaan optimal dari hijauan makanan ternak, dimana lewat batas
tersebut, komposisi kimia , perbandingan daun dan batang atau banyaknya biji
(butiran), sangat besar pengaruhnya terhadap nilai gizi. Proses pemanenan pada
hijauan tergantung pada jenis hijauan yang ditanam dan tentunya sistem atau
manajemen dalam pengelolaan hijauan. Berdasarkan pola pertumbuhan yang
dimiliki masing-masing species, maka faktor umur tanaman merupakan faktor
penting yang harus diperhatikan dalam menentukan jadwal pemotongan. Beberapa
tanaman hijauan dipotong atau dipanen beberapa kali dalam setahun. Setiap
pemotongan mempunyai zat gizi yang khusus, disamping ciri-ciri fisiknya.
Tahap pertumbuhan dan umur tanaman pada masa perkembangan tanaman
merupakan faktor yang penting dalam menentukan produsi dan kualitas hijauan
dan dalam penerapan umur pemotongan maka kombinasi kedewasaan (maturity)
dan umur tanaman merupakan petunjuk utama. Beberapa faktor pendukung lain
adalah : kondisi tanah, suhu, intensitas cahaya, panjang hari, air dan manajemen.
Tingkat kedewasaan didasarkan atas pertumbuhan atau pertumbuhan kembali (re-growth) dan selanjutnya harus dipertimbangkan dalam batas-batas pemotongan,
maka pemotongan hijauan makanan ternakseringkali diikuti dengan data tingkat
kedewasaan.
MK TNK 306/Modul 1  18
Pola pertumbuhan tanaman merupakan grafik berbentuk sigmoid, dengan
pola yang ada akan dapat diketahui waktu yang tepat dalam pemotongan. semakin
tua umur tanaman maka produksi (kuantitas) akan semakin meningkat. Dengan
demikian dapat diketahui bahwa umur pemotongan mempengaruhi produksi
hijauan, dimana kedua aspek tersebut  merupakan interaksi antara umur
(umur dan interval pemotongan) dan produksi (kuantitas dan kualitas).
Hijauan yang dipotong pada umur muda, maka hasil yang diperoleh tidak
sebesar jika hijauan dipotong pada umurtua. Meskipun demikian, pemotongan
pada umur tua mempunyai konsekuensi terhadap kualitas berupa penurunan nilai
gizi. Sedangkan pemotongan pada umur terlalu muda akan berakibat buruk
terhadap pertumbuhan kembali (regrowth) hijauan. Tanaman muda teridentifikasi
dalam tahap establismental yang merupakan tahap transisi dimana pada tahap ini
terjadi produksi awal : daun, titik tumbuh, dan akar sekunder. Pada tahap ini
belum terdeposisi nutrisi yang cukup terdistribusi padaseluruh bagian tanaman
dengan kandungan air cukup tinggi. Sehingga pemberian hijauan yang masih
muda pada ternak masih cukup beresiko terhadap kesehatan ternak.
Produksi hijauan yang terkait aspek kualitas hijauan mencakup nilai gizi
dan tingkat konsumsi hijauan oleh ternak. Nilai gizi adalah kandungan zat
makanan dan kecernaan zat makanan tersebut. Umur yang semakin tua akan
meurunkan kualitas hijauan dimana nilai TDN (Total Digestible Nutrient) dan CP
(Crude Protein) semakin menurun sedangkan kandungan NDF (Neutral
Detergent Fiber), ADF (Acid Detergent Fiber), dan Lignin semakin tinggi.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa pada umur pemotongan yang lebih tua maka
nilai gizi hijauan semakin turun (TDN ↓; CP ↓) dan tingkat kecernaan juga
semakin turun (NDF ↑; ADF  ↑; Lignin  ↑). Secara morfologi, terjadinya
penurunan kualitas hijauan terjadi karena perubahan dalam imbangan daun dan
batang. Semakin tua umur tanaman, maka pada tahap floral stem elongation,
batang akan memiliki persentase yang lebih besar daripada daun. Dengan
demikian dapat dijelaskan bahwa pada umur pemotongan yang lebih tua, produksi
secara kuantitas akan lebih besar, namun secara kualitas akan turun sebagai
MK TNK 306/Modul 1  19
resultan dari komposisi batang terlalu tinggi yang berakibat pada turunnya
kecernaan dan palatabilitas hijauan.
4.3.1.2 Manajemen Pemotongan Hijauan
Hijauan makanan ternak mempunyai masa produktif yang berbeda
tergantung pada karakteristik species hijauan. Setelah pemotongan pertama, maka
hijauan akan memiliki interval waktu antara pemotongan pertama sampai dengan
akhir masa produktif. Dalam manajemen pemotongan terdapat 2 aspek utama,
yaitu : tinggi pemotongan dan frekuensi/interval pemotongan. Aspek yang terkait
dengan umur tanaman adalah interval pemotongan hijauan selama masa produktif.
Interval waktu pemotongan lebih lama maka produksi persatuan waktu
juga akan meningkat sampai dengan batas tertentu. Nilai nutrisi hijauan akan
sangat dipertimbangkan ketika material tanaman yang didapat pada pemotongan
dengan frekuensi rendah (interval lama) akan menghasilkan proporsi daun tua
yang lebih tinggi dengan nilai nutrisi rendah.
Interval pemotongan pada hijauan berhubungan erat dengan : produksi,
nilai nutrisi, potensi pertumbuhan kembali, komposisi botani, dan daya tahan
hijauan. Dalam hal ini diperlukan suatu pengetahuan yang baik sehingga dapat
diketahui ketepatan umur pemotongan hijauan sehingga dihasilkan kuantitas dan
kualitas yang optimal.
4.3.1.3  Hijauan Segar
Hijauan segar, dapat diperoleh darihijauan/tanaman makanan ternak yang
dipotong atau tidak yang diberikan kepadaternak dalam keadaan segar. Hijauan
segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk
segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak
(disengut langsung oleh ternak). Hijauan ini dapat berasal dari pasture maupun
tanaman padangan. Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal
dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian/ jenis kacang-kacangan.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak,
mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah
MK TNK 306/Modul 1  20
tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga
menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung
karbohidrat dalam bentuk gula sederhana,pati dan fruktosa yang sangat berperan
dalam menghasilkan energi.
a.  Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Panicum
maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria
(Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan
rumput lapangan yang tumbuh secara liar.
b.  Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens),  Pueraria
phaseoloides, Calopogonium muconoidesdan jenis kacang-kacangan
lain.
c.  Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll
Pasture dapat diartikan sebagai suatu areal tanah yang ditanami hijauan
makanan ternak, dimana ternak dapat langsung dilepas untuk mendapatkan
makanan diareal tersebut. Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan
pasture maupun tanaman padangan antara lain :
-  mengurangi biaya penyediaan makanan
-  memperkecil defisiensi beberapa zat makanan
-  memperkecil biaya bangunan
-  meningkatkan kesuburan tanah
-  dapat diperoleh hijauan dengan kualitas yang memadai dan dalam keadaan
seragam
-  disamping dipergunakan sebagai tempat mendapatkan makanan, dapat
dipergunakan juga sebagai tempat yang bebas untuk bergerak bagi ternak
yang bersangkutan
Kualitas hijauan segar yang diperoleh, disamping tergantung kepada kondisi
tanah, iklim dan curah hujan maupun cara tanam, juga sangat tergantung kepada
kedewasaan (umur) tanaman dan pemotongan.
MK TNK 306/Modul 1  21
4.3.1.4  Hijauan Kering dan Jerami
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan
pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya
lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan). Pengawetan hijauan
melalui proses pengeringan, dalam bentuk khusus adalah berupa hay, yaitu
hijauan yang dipotong pada periode pertumbuhan (growing) dan diawetkan
melalui pengeringan yang digunakan sebagai bahan makanan ternak.
Kualitas hay yang dihasilkan sangat tergantung kepada beberapa faktor,
antara lain :
-  kualitas dari hijauan segarnya (haycrop), yang tergantungkepada jenis
hijauan yang digunakan dan umur waktu pemotongan.
-  lama pengeringan, untuk mendapatkan hay dengan kualitas baik,
pengeringan sebaiknya dilakukan selama2-3 hari dibawah sinar matahari
(dalam cuaca baik), dengan dilakukan pembalikan setiap harinya.
Pengeringan yang kurang baik tanpa pembalikan, dimana masih ada
bagian-bagian yang kurang kering, dapat menimbulkan kerusakan hay
karena adanya jamur atau bakteri.
-  kondisi selama penyimpanan, walaupun hay yang dihasilkan berkualitas
baik, tetapi kalau penyimpanan kurang mendapat perhatian, kualitas hay
akan menurun. Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan proses
oksidasi dan fermentasi yang akan menurunkan kualitas hay.
Jerami adalah sisa-sisa tanaman setelah biji atau buahnya dipetik untuk
kepentingan manusia atau disebut sebagai hasil ikutan (limbah) pertanian,
biasanya terdiri atas batang dan daun. Karena merupakan tanaman yang sudah tua,
dan sudah diambil hasilnya, maka nilai nutrisinya dapat dikatakan rendah.
Berbagai jerami di areal pertanian yang padat ternak, jerami banyak
dipergunakan sebagai pengganti sebagian hijauan segar makanan ternak
ruminansia. Pola penggunaan limbah pertanian ini dalam ransum ternak mengikuti
pola tanam yang ada di daerah bersangkutan. Limbah pertanian yang dapat
MK TNK 306/Modul 1  22
dikatakan banyak digunakan di sepanjang tahun adalah jerami padi, yang selalu
tersedia selain rumput.
4.3.1.5  Silase
Selain pengeringan, pengawetan hijauan makanan ternak dapat juga
dilakukan dalam bentuk silase, yaitu  hijauan yang difermentasikan pada
kelembaban tinggi dan dalam situasi an aerob. Pegertian lain, silase adalah hijauan
pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman
sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan. Karena disimpan dalam bentuk
segar, maka silase yang dihasilkan tidak mengalami perubahan komposisi kimia
yang besar.
Kualitas silase yang dihasilkan tergantung pada faktor :
-  umur waktu pemotongan bahan segar
-  kandungan karbohidrat
-  tipe silo yang digunakan
-  kandungan bahan kering bahan segar
-  pemotongan bahan segar
-  situasi dan kondisi selama fermentasi
Silase tidak dapat diberikan kepadaternak semua umur, misal pada sapi,
baru dapat diberikan setelah sapi berumur 6 – 8 minggu. Pada sapi yang sedang
laktasi, sebaiknya diberikan setelah pemerahan sehingga bau yang kurang sedap
tidak berpindah padaair susu yang dihasilkan. Perbandingan komposisi kimia
silase dengan hijauan segar.
4.3.2 Latihan 3
a.  Bagaimana hubungan antara umur pemotongan dengan kualitas hijauan ?
b.  Faktor apa saja yang dipergunakan dalam menilai produksi suatu
hijauan?
c.  Jelaskan perbedaan antara hijauan yang diawetkan secara segar dan
dikeringkan !
MK TNK 306/Modul 1  23
4.3.3 Petunjuk Latihan 3
a.  Pada umur muda, tanaman mempunyai kandungan zat gizi yangtinggi
namun biomassanya rendah, kondisi sebaliknya pada tanaman yang
berumur tua.
b.  Produksi suatu jenis hijauan diukur dari segi kuantitas dan kualitasnya.
c.  Pengawetan cara segar dan kering memberikan hasil hijauan awetan
yang berbeda karena prisnip prosesnyapun berbeda.
4.3.4 Rangkuman
Yang dimaksud dengan hijauan makanan ternak adalah bahan makanan
asal tanaman dalam keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan
sebagai makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak. Secara umum,
hijauan mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.  Sifatnya bulky, yaitu mempunyai berat rendah per unit volume.
b.  Serat kasar tinggi ( > 18%)
c.  Energi rendah bila dibandingkan dengan makanan penguat.
d.  Mineral, umumnya kandungan kalsium,potasium dan trace mineral
lebih tinggi dibanding konsentrat, tetapikandungan fosfor rendah.
e.  Vitamin, kandungan vitamin yang larut lemak tinggi, terutama untuk
leguminosa kaya akan vitamin B.
f.  Protein, bervariasi. Leguminosa dapat mencapai 20% atau lebih,
sebaliknya jerami hanya mengandung 3-4 % protein kasar.
Tingkat kedewasaan (kematangan atauumur) adalah salah satu faktor
yang penting dan mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak. Ada suatu
tingkat kedewasaan optimal dari hijauan makanan ternak, dimana lewat batas
tersebut, komposisi kimia , perbandingan daun dan batang atau banyaknya biji
(butiran), sangat besar pengaruhnya terhadap nilai gizi.
Interval waktu pemotongan lebih lama maka produksi persatuan waktu
juga akan meningkat sampai dengan batas tertentu. Nilai nutrisi hijauan akan
sangat dipertimbangkan ketika material tanaman yang didapat pada pemotongan
dengan frekuensi rendah (interval lama) akan menghasilkan proporsi daun tua
yang lebih tinggi dengan nilai nutrisi rendah. Interval pemotongan pada hijauan
MK TNK 306/Modul 1  24
berhubungan erat dengan : produksi, nilai nutrisi, potensi pertumbuhan kembali,
komposisi botani, dan daya tahan hijauan.
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak
dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun
yang tidak (disengut langsung oleh ternak).Hijauan ini dapat berasal dari pasture
maupun tanaman padangan.
Termasuk kedalam kelompok hijauan kering adalah semua jenis jerami
dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat
kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan). Jerami
adalah sisa-sisa tanaman setelah biji atau buahnya dipetik untuk kepentingan
manusia atau disebut sebagai hasil ikutan (limbah) pertanian, biasanya terdiri atas
batang dan daun. Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk
segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.
Karena disimpan dalam bentuk segar, maka silase yang dihasilkan tidak
mengalami perubahan komposisi kimia yang besar.
4.3.5 Tes Formatif 3
Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benardan S jika pernyataan salah.
1.  B – S Hijauan makanan ternak adalahbahan makanan asal tanaman dalam
keadaan segar, kering atau yang diawetkan yang digunakan sebagai
makanan ternak, tanpa mengganggu kesehatan ternak.
2.  B – S Tingkat kedewasaan (kematangan atau umur) bukan merupakan
faktor yang mempengaruhi nilai gizi hijauan makanan ternak.
3.  B – S Pola pertumbuhan tanaman merupakan grafik berbentuk sigmoid,
dengan pola yang ada akan dapat diketahui waktu yang tepat dalam
pemotongan, semakin tua umur tanaman maka produksi (kuantitas
dan kualitas) akan semakin meningkat.
4.  B – S Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula
sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam
menghasilkan energi.
5.  B – S Salah satu keuntungan daripenggunaan pasture maupun tanaman
padangan adalah memperkecil biaya bangunan
6.  B – S Sifat bulky pada hijauan berarti hijauan mempunyai berat tinggi per
unit volume
7.  B – S Pengeringan dan pembalikan, dapat menghindarkan kerusakan hay
karena adanya jamur atau bakteri.
8.  B – S Hay adalah yaitu hijauan yang dipotong pada periode pertumbuhan
MK TNK 306/Modul 1  25
(growing) dan diawetkan melalui pengeringan yang digunakan
sebagai bahan makanan ternak.
9.  B – S Karena disimpan dalam bentuk segar, maka silase yang dihasilkan
tidak mengalami perubahan komposisi kimia yang besar
dibandingkan kualitas hijauan asal.
10.  B – S Keuntungan penggunaan silase adalah dapat diberikan kepada ternak
semua umur dan semua status fisiologis
4.3.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 3 yang
terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan
kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda
terhadap materi Kegiatan Belajar 3 ini.
Rumus :
Jumlah Jawaban Anda yang benar
Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :
90% - 100% = baik sekali
80% - 89% = baik
70% - 79% = sedang
<69% = kurang
Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 4. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda
masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 3, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.
MK TNK 306/Modul 1  26
4.4 Kegiatan Belajar 4
BAHAN MAKANAN TERNAK SUMBER ENERGI
DAN SUMBER PROTEIN
4.4.1 Uraian dan Contoh
4.4.1.1 Bahan Makanan Ternak Sumber Energi
Bahan makanan ternak sumber energi adalah bahan makanan yang
digunakan ternak sebagai sumber utama energi atau tenaga. Energi merupakan
unsur Physiological Processes, meliputi untuk hidup pokok : metabolisme basal,
aktifitas, mengatur panas tubuh, untuk reproduksi dan produksi : pertumbuhan,
lemak, telur, bulu, dan kerja. Bahan makanan sumber energi sebagian besar
merupakan hasil pertanian baik berupabiji-bijian maupun limbah penggilingan
ataupun industri pertanian.
Karakteristik umum yang dimiliki bahan makanan sumber energi adalah :
-  Kandungan karbohidrat ± 80 % dari bahan kering yang terdiri dari
pentosan, dekstrin, apti, gula,selulose dan hemiselulose.
-  Serat kasar antara 0,5 – 20 % dan tinggi daya cernanya
-  Lemak rendah sekitar 1 – 4 %
-  Protein dalam endosperm hampir seluruhnya kecuali pada jagung kurang
akan tritophan, metionin, dan lisin rendah.
-  Mineral Ca rendah dan P tinggi sehingga dalam keadaan imbalanced.
-  Vitamin : vitamin A rendah kecuali yellow corndemikian juga untuk
tiamin, riboflavin, pantotenat, dan piridoksin.
A. Biji-bijian
Bahan makanan sumber energi asalbiji-bijian yang biasa digunakan
sebagai makanan ternak antara lain : padi (gabah, menir, beras), jagung, sorghum.
Masalah dalam penggunaan bahan makanan sumber energi pada ternak
ruminansia, bila digunakan dalam jumlah tinggi sebagai makanan penguat(High
Concentration Rations) akan menyebabkan terjadinya digestve disturbance, oleh
karena itu rasio hijauan dan konsentrat perlu mendapatkan perhatian.
MK TNK 306/Modul 1  27
Jagung
-  Bahan ini “diharuskan” untuk digunakan pada ransum unggas komersial
pada umumnya.
-  Merupakan biji-bijian sumber energi dengan kadar protein yang rendah
(lisin dan tritophan), rendah serat kasar dan mengandung energi yang
tinggi; juga merupakan sumber Xantophil, provit-A, asam lemak.
-  Kandungan PK 9,8%; rendahnya kualitas protein karena adanya “zein”
(50% dari seluruh protein jagung) yang bersifat larut dalam alkohol.
-  Penggunaan jagung dalam ransum harus ditambahkan sumber protein atau
asam amino sintetik.
-  Kadar lemak yang relatif tinggi menyebabkan tidak tahan disimpan lama.
-  Komposisi zat makanannya dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan
penanamannya.
Shorgum
-  Mempunyai komposisi kimia hampir menyerupai jagung
-  Mengandung 70% BETN yang semuanya berupa pati, kadar serat kasar
rendah.
-  Kadar lemak rendah, Ca juga rendah, dan tidak mengandung vitamin D.
-  Penggunaan shorgum dalam ransum harus ditambahkan sumber protein
atau asam amino sintetik, asam amino pembatasnya adalah lisin dan
diikuti treonin.
-  Baik untuk semua ternak, namun kadangkala menimbulkan rasa yang
kurang enak
-  Jarang digunakan oleh peternak di Indonesia.
Gandum
-  Dapat digunakan dalam jumlahbesar untuk ternak unggas.
-  Perlu dihindari dalam bentuk halaus, karena bersifat lengket sehingga akan
mempengaruhi konsumsi.
-  Merupakan sumber fosfor, tapi kalsiumnya rendah
-  Tidak mengandung vitamin A dan D
-  Kaya niasin, cukup tinggi kandungan tiamin, riboflavin rendah.
MK TNK 306/Modul 1  28
Padi
-  Karena merupakan makanan pokok di Indonesia, penggunaannya untuk
ternak sangat terbatas
-  Gabah adalah butir padi yang belum digiling, kandungan protein lebih
rendah daripada jagung serta miskin vitamin A.
-  Menir, merupakan pecahan beras pada penumbukan padi. Sering
digunakan pada unggas (ayam kampung).
Ubi kayu
-  sumber energi yang realtif murah dan mudah didapat
-  kandungan PK < 3 % dan SK rendah
-  mengandung racun asam sianida/HCN (termasuk daun)
-  dengan pengolahan dapat mengurangi kadar HCN
B.  Hasil Sampingan atau Ikutan Pengolahan Hasil Pertanian
Bahan ini banyak dipergunakan sebagai bahan makanan sumber energi
karena mudah didapat dan harganya relatif murah.
Dedak Padi
-  Merupakan hasil ikutan industri penggilingan padi; di Indonesia terdapat 3
kualitas, yaitu : dedak kasar, dedak halus/lunteh, bekatul.
-  Dedak kasar, dedak yang diperoleh dari hasil penumbukan atau
penggilingan pertama; kualitas rendah; kandungan PK ± 6 %; SK >20 % ;
lebih banyak digunakan pada ternak ruminansia dan kuda.
-  Dedak halus, merupakan hasil ikutan penumbukan atau penggilingan
untuk memperoleh beras asah; kandungan PK ± 11 % dengan SK ± 10%;
kaya vitamin dan niasin; mudah tengik; kandungan serat kasar tergantung
pada terikutnya kulit gabah; dapat digunakan untuk ternak non ruminansia.
-  Bekatul, diperoleh dari penumbukan atau penggilingan terakhir;
merupakan bagian endosperm; selaput dan lembaga; kandungan PK
mencapai 12 % dengan serat kasar ± 5%; mudah tengik; tidak
mengandung kulit gabah.
MK TNK 306/Modul 1  29
-  Kualitas bervariasi, dipengaruhi banyaknya kulit gabah. Kulit gabah
mengandung serat kasar dengan kadar silika 11 – 19 %, hal ini merupakan
pembatas nutrisi yang menyebabkan dedak padi tidak dapat digunakan
berlebihan.
-  Kadar protein lebih tinggi daripada jagung, kualitas proteinnyapun lebih
baik.
-  Penggunaan yang terlalu tinggi akanmelembekkan lemak karkas.
-  Mempunyai masalah terhadap penyimpanan.
-  Dapat menggantikan sebagian peran jagung.
Dedak Jagung/Empok
-  Merupakan lapisan luar biji jagung, mencakup kulit dan ujung tudung
dengan sedikit bagaian pati lembaganya.
-  Kandungan protein tidak lebih banyak daripada jagungnya.
-  Pemberian terlalu tinggi dapat menyebabkan ulkus lambung, karena
kandungan kulit biji.
-  Bila diberikan pada unggas, hasilnya kurang baik bila dibandingkan
dengan biji jagung.
Tetes atau Molases
-  merupakan hasil ikutan pabrik gula
-  kandungan protein rendah (3-4 %); kandungan energi tinggi dlaam bentuk
mono dan disakarida
-  banyak digunakan pada ternak ruminansia
-  selain sumber energi juga bermanfaat sebagai : penambah rasa,
mengurangi sifat berdebu pakan, pellet binder, stimulus aktivitas mikroba,
carrier NPN dan vitamin dalam suplemen betuk cairan.
-  penggunaan pada ruminansia sampai 15 %, pada unggas < 10 %.
-  penggunaan berlebihan dapat memunculkan sifat laksatif (penyebab
mencret)
-  penggunaan berlebihan juga mempersulit proses mixing.
-  Kualitas tergantung mutu tebu dan proses pengolahannya
MK TNK 306/Modul 1  30
Ampas tahu
-  hasil ikutan pembuatan/industri tahu dengan bahan baku kedelai
-  kandungan protein mencapai 30 % tapi kadar air sangat tinggi
-  banyak digunakan ternak babi, saat sekarang juga dimanfaatkan oleh
peternak sapi dan domba.
Bostel bir/ampas bir
-  hasil ikutan industri bir
-  banyak digunakan sebagai campuran pakan sapi dan babi
-  kandungan protein 5,8 % (basah), 28,3 % (kering)
Minyak Makan
-  Sumber energi yang baik dan sering digunakan untuk ayarn broiler, karena
kebutuhan energinya yang tinggi
-  Minyak kelapa mengandung energi: metabolis sebesar  8.600 Kcal/kg,
lebih dari 3 kali kandungan energi metabolis jagung kuning.
-  Tetapi tidak boleh menggunakan minyak makan ini sebagai andalan
utarna, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit hanya untuk pelengkap
sumber energi lainnya.
4.4.1.2 Bahan Makanan Ternak Sumber Protein
Bahan makanan ternak sumber protein dapat berasal dari tanaman dan
hewan. Pada tanaman protein terpusat pada bagian yang tumbuh, seperti : daun,
tangkai muda, dan biji. Bakteri yang terdapat dalam tanah dan di dalam akar
leguminosa tertentu dan beberapa tanaman dapat mengubah nitrogen atmosfir
menjadi persenyawaan nitogen untuk membentuk asam amino dan persenyawaan
nitrogen organik lain. Tanaman mensintesa protein dan disimpan dalam jumlah
yang berbeda-beda dan berbagai macam bagian tanaman.
Sebaliknya protein pada bahan makanan asal hewan, letaknya tersebar
mulai tulang, ligamentum, bulu, kulit, jaringan dan organ tubuh lain. Nilai hayati
protein hewani lebih tinggi bila dibandingkan dengan protein nabati, dalam hal ini
kualitas asam aminonya.
MK TNK 306/Modul 1  31
Ternak ruminansia dapat mensintesa protein melalui mikroba dalam
rumen, sebaliknya ternak non ruminansiatidak dapat mensitensa asam amino.
Oleh karena itu dalam penyediaan ransum non ruminansia sangat penting
diperhatikan standar kebutuhan protein dan komposisi asam amino khususnya
asam amino essensial.
A. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Tanaman
Bahan makanan ini dapat berupa biji-bijian sebangsa leguminosa ataupun
bungkil-bungkilan hasil ikutan industri minyak asal tanaman.
Hampir semua sumber protein asal tanaman mempunyai faktor-faktor
pembatas yang harus dihilangkan melalui proses pengolahan khusus untuk
mendapatkan nilai gizi yang maksimum. Faktor pembatas tersebut memberikan
pengaruh terhadap alat pencernaan dan penggunaan zat-zat maknan dalam tubuh
ternak.
Sumber proteien asal tanaman berupa biji-bijian yang kaya minyak,
dalam industri minyak akan memberikanhasil ikutan berupa bungki-bungkilan
yang masih dapat dipergunakan sebagai bahan makanan sumber protein bagi
ternak.
Kacang Kedelai
-  merupakan leguminosa yang tinggi nilai gizinya
-  kadar protein tinggi dengan susunan asam amino yang hampir menyerupai
asam amino protein hewani; limiting amino acid(LAA) pada kandungan
metionin bila dibandingkan dengan telur.
-  Disebut sebagai casein tanaman , karena komposisi glisinin dan glutelin
mendekati protein susu.
-  Kandungan lemak tinggi; 80 % merupakan asam lemak tak jenuh sehingga
penggunaannya harus diperhatikan agar lemak tidak lembek terutama pada
babi.
-  Keterbatasan disebabkan oleh kandungan anti nutrisi, yaitu : anti tripsin
(berpengaruh pada kerja enzym tripsin); hemoglutinin (pengaruh pada
MK TNK 306/Modul 1  32
aglutinasi sel-sel darah merah; glukosida (berpengaruh pada hemolisis sel
darah merah); isoflavon (pengaruh esterogenik)
-  Anti nutrisi bersifat tidak stabil dan akan berkurang aktivitasnya dengan
pemanasan pada kedelai mentah.
-  Pembatas yang lain adalah persaingan pemanfaatan untuk manusia.
Kacang Tanah
-  Merupakan leguminosa yang tinggi kadar lemaknya.
-  Mengandung anti tripsin dan racun aflatoksin yang berasal dari
Aspergillus flavus
-  Racun tersebut akan terkandung juga dalam daging ternak yang diberi
pakan yang mengandung alflatoksin.
B. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Bungkil-bungkilan
Bungkil-bungkilan merupakan hasil sampingan atau limbah industri
minyak tanaman yang masih tinggi kandungan proteinnya. Kualitas bungkil
dipengaruhi oleh bahan baku dan prosesdalam pembuatan minyaknya, melalui
cara mekanik (penekanan) atau menggunakan pelarut lemak (solvent).
Bungkil Kedele
-  Merupakan bahan baku dengan kandungan protein yang tinggi (43–51 %).
-  Mempunyai pembatas nutrisi beruparendahnya kandungan lisin dan
metionin.
-  Bahan ini lebih banyak digunakan pada ternak unggas dan babi.
-  Merupakan bahan favorit pada formulasi ransum; pada ternak babi dapat
mencapai penggunaan 93 % dan pada ternak ayam maksimal 45 %.
Bungkil Kelapa
-  Merupakan bahan yang berasal dari hasil ikutan ekstraksi minyak daging
kelapa kering (kopra).
-  Dari segi nutrisi tidak memuaskan, tetapi merupakan bahan alternatif yang
penting untuk menutup kekurangan kebutuhan protein pakan.
MK TNK 306/Modul 1  33
-  Kekurangan lisin dan metionin (nutrisi pembatas) dapat ditutupi dengan
penggunaan tepung ikan atau asam amino sintetik.
-  Pada ternak babi, penggunaannya tidak boleh lebih dari 20 %.
Bungkil Kacang Tanah
-  Merupakan hasil ikutan pabrik minyak kacang tanah.
-  Kadar protein antara 45 – 55 % (tergantung proses).
-  Komposisi asam amino terutama lisin sangat rendah.
-  Media yang baik untuk jamur penghasil Aflatoksin.
-  Penggunaan pada unggas mencapai 25 %.
-  Pada babi perlu dibatasi pengunaan, karena bai bersifat rentan terhadap
Aflatoksin.
Bungkil Biji Kapuk
-  Memupnayi kandungan protein cukup tinggidengan sifat yang lebih baik
dari pada bungkil biji kapas, kandungan protein mencapai 28 %.
-  Tidak mengandung gossipol.
-  Pemakaian tidak boleh melebihi 2 %.
Ampas Kecap
-  Ampas kecap adalah buangan dari proses pembuatan kecap.
-  Untuk dapat digunakan menjadi bahan baku pakan, ampas kecap harus
dikeringkan terlebih dahulu dan digiling menjadi tepung.
-  Nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya, protein 24,9% dan lemak
24,3%.
Tepung Daun Lamtoro
-  Bahan ini dapat digunakan sebagai sumber protein nabati yang cukup baik
untuk campuran pakan ternak.
-  kandungan xanthofilnya cukup baik, sekitar 660 ppm, nilai ini jauh di atas
kandungan xanthofil jagung kuning, sekitar 20 ppm. Karena itu, tepung
daun lamtoro dapat juga digunakan sebagai pewarna kuning di bagian kaki
dan kulit ayam ras pedaging.
MK TNK 306/Modul 1  34
-  Pengeringan daun lamtoro sekaligus untuk menghilangkan zat mimosin
atau zat yang dapat menyebabkan kerontokan bulu unggas, lalu ditumbuk
atau digiling menjadi tepung.
-  Dalam industri pakan, umumnya bahan baku ini tidak digunakan karena
kesulitan pengadaannya dan tidak ada jaminan kemurniannya (sering
dipalsukan).
-  Jika dibuat tepung, daun lamtoro akan menghasilkan rendemen 30% dari
bobot daun basah.
C. Bahan Makanan Ternak Sumber Protein asal Hewan
Bahan makanan ternak asal hewan ini dapat dikatakan sebagai sumber
utama protein bagi ternak, terutama ternak non ruminansia yang tidak dapat
mensintesa asam amino, sehingga bahan makanan sumber protein terutama
ditinjau dari kandungan asam aminonya harus tersedia dalm ransum.
Kelebihan bahan makanan sumber protein asal hewan bila dibandingkan
dengan asal tanaman adalah karena :
-  asam amino lisin dan metionin lebih tinggi
-  mineral Ca dan P lebih tinggi
-  vitamin B kompleks lebih tinggi, terutama B12yang hanya terkandung
dalam protein hewani
-  mengandung unidentifiedgrowth factor
Tepung Ikan
-  Merupakan bahan utama untu keseimbangan asam amino.
-  Kandungan protein antara 60 – 70 % (impor) dan 45 – 55 % (lokal),
tergantung pada : materi ikan, proses pengolahan, dan penyimpanan
-  kandungan proteinnya sangat tergantung kepada jenis ikan yang
digunakan, ikan laut akan lebih baik dibandingkan dengan ikan darat jika
digunakan untuk membuat tepung ikan
-  Dapat mendukung bahan baku asal nabati.
MK TNK 306/Modul 1  35
-  Harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga bahan baku ini hanya
digunakan sebesar 5-12% terhadap total komposisi.
Tepung Daging
-  Merupakan produk kering jaringan mamalia (non bulu, kuku, viseral,dan
kulit).
-  Kandungan protein cukup tinggi antara 50 – 60 %.
-  Kombinasi jagung dan tepung daging dengan proporsi yang cukup tinggi
dalam ransum akan berbahaya bagi monogastrik.
Tepung Darah
-  Merupakan hasil ikutan dari rumah potong hewan.
-  Kadar protein 80 – 85 %.
-  Ketersediaan protein dan asam amino rendah.
-  Penggunaan pada unggas 4 – 5%; babi2 – 3 % dari total ransum.
-  Berfungsi sebagai suplemen protein dan asam amino.
Tepung Bulu Unggas
-  dapat digunakan sebagai bahan baku pakan, namun, untuk membuat
tepung bulu unggas ini diperlukan proses lebih lanjut.
-  Bulu unggas dibersihkan kemudian dihidrolisis atau dimasak dengan suhu
tinggi dan tekanan 3 atmosfir. Setelah itu, dikernbalikan ke tekanan nor-mal 1 atmosfir, ditiriskan, dan dikeringkan dengan suhu kurang dari 700
C, lalu digiling halus.
-  Kandungan proteinnya memang sangat tinggi, sekitar 85%. Namun,
unggas, termasuk ayam ras pedaging, mempunyai keterbatasan untuk
menyerap protein tersebut, sehingga akan banyak bagian yang terbuang
melalui kotoran
-  kandungan asam aminonya relatif rendah, sehingga penggunaannya dalam
pakan sebaiknya tidak lebih dari2%, bahkan untuk pakan anak unggas
atau. pakan starter tidak dianjurkan menggunakan bahan baku ini.
Hasil Ikutan/Limbah Usaha ternak Unggas
-  Berupa sisa karkas pada rumah potong ayam, sisa penetasan, dan bulu
unggas
MK TNK 306/Modul 1  36
-  Merupakan bahan pendukung untuk pendukung protein, vitamin, dan
mineral.
-  Dapat mengurangi peggunaan tepung ikan.
-  Kualitas tergantung pada bahan baku dan proses pembuatan.
Hasil ikutan produk susu
-  Merupakan ikutan pengolahan produk susu seperti pembuatan keju atau
kasein; bentuk produk dapat berupa tepung, cairan ataupun cairan kental.
-  Contoh : skim milk, baia digunakan sebagai milk repalcer.
Isi Rumen
-  merupakan limbah rumah potong hewan
-  masih terdapat sisa makanan yang belum tercerna dan mengandung
mikroorganisme rumen; perlu diperhatikan pula faktor parasit
-  penggunaan sebaiknya dalam bentuk kering
-  kandungan PK pada isi rumen kambing mencapai 28 % sedangkan isi
rumen sapi hanya 16,2 %; kandungan serat kasar keduanya cukup tinggi,
mencapai 25 %.
-  faktor pembatasnya adalah sifat bulky, terutama untuk ternak unggas.
Kotoran Hewan/Manure
-  kotoran hewan berpotensi juga sebagai bahan makanan ternak, terutama
pada ternak ruminansia
-  sebainya digunakan dalam bentuk kering
-  kualitas tergantung : komoditi ternak, tujuan pemeliharaan, bentuk pakan,
dan kondisi ternak
-  dalam bentuk kering kandungan PK kotoran ayam pedaging mencapai
30,6 %; pada ayam petelur sekitar 28%; namun kandungan tersebut sangat
berfluktuasi
4.4.2 Latihan 4
a.  Apa yang dimaksud dengan bahan makanan ternak sumber energi ?
b.  Bagaimana perbedaan kualitas protein asal tanaman dan hewan ?
MK TNK 306/Modul 1  37
c.  Bagaimana proses yang dilakukan pada bahan sehingga didapatkan
bahan makanan ternak yang disebut bungkil ?
4.4.3 Petunjuk Latihan 4
a.  BMT sumber energi adalah bahan yang dapat dipergunakan sebagai
sumber utama energi dalam ransum.
b.  BMT sumber protein asal tanaman mengandung protein yang lebih
rendah daripada asal hewan.
c.  Memisahkan bagian protein dan lemak melalui proses pemanasan-penekanan atau menggunakan solvent.
4.4.4 Rangkuman
Bahan makanan ternak sumber energi adalah bahan makanan yang
digunakan ternak sebagai sumber utama energi atau tenaga. Bahan makanan
sumber energi sebagian besar merupakan hasil pertanian baik berupa biji-bijian
maupun limbah penggilingan ataupun industri pertanian.
Karakteristik umum yang dimiliki bahan makanan sumber energi adalah :
-  Kandungan karbohidrat ± 80 % dari bahan keringf yang terdiri dari
pentosan, dekstrin, apti, gula,selulose dan hemiselulose.
-  Serat kasar antara 0,5 – 20 % dan tinggi daya cernanya
-  Lemak rendah sekitar 1 – 4 %
-  Protein dalam endosperm hampir seluruhnya kecuali pada jagung kurang
akan tritophan, metionin, dan lisin rendah.
-  Mineral Ca rendah dan P tinggi sehingga dalam keadaan imbalanced.
-  Vitamin : vitamin A rendah kecuali yellow corn
Bahan makanan ternak sumber protein dapat berasal dari tanaman dan
hewan. Pada tanaman protein terpusat pada bagian yang tumbuh, seperti : daun,
tangkai muda, dan biji. Sebaliknya protein pada bahan makanan asal hewan,
letaknya tersebar mulai tulang, ligamentum, bulu, kulit, jaringan dan organ tubuh
lain. Nilai hayati protein hewani lebih tinggi bila dibandingkan dengan protein
nabati, dalam hal ini kualitas asam aminonya.
MK TNK 306/Modul 1  38
Ternak ruminansia dapat mensintesa protein melalui mikroba dalam
rumen, sebaliknya ternak non ruminansiatidak dapat mensitensa asam amino.
Oleh karena itu dalam penyediaan ransum non ruminansia sangat penting
diperhatikan standar kebutuhan protein dan komposisi asam amino khususnya
asam amino essensial.
4.4.5 Tes Formatif 4
Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benardan S jika pernyataan salah.
1.  B – S Bahan makanan sumber energisebagian besar merupakan hasil
pertanian baik berupa biji-bijian maupun limbah penggilingan
ataupun industri pertanian.
2.  B – S Rasio hijauan dan konsentrat pada pakan ternak ruminansia perlu
mendapatkan perhatian untuk mencegah digestive disturbance.
3.  B – S Bahan jagung merupakan bahan yang pasti digunakan pada ransum
unggas komersial pada umumnya.
4.  B – S Kacang kedele merupakan bahan dengan kualitas tinggi dan sedikit
memiliki faktor pembatas.
5.  B – S Bungkil kacang tanah merupakan bahan baku yang sudah terbebas
dari aflatoksin.
6.  B – S Bahan makanan ternak asal hewan dapat dikatakan sebagai sumber
utama protein bagi ternak, terutamaternak non ruminansia yang tidak
dapat mensintesa asam amino.
7.  B – S Pada tepung ikan, harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga
bahan baku ini hanya digunakan sebesar 5-12% terhadap total
komposisi.
8.  B – S Kandungan protein tepung sangat tinggi, sekitar 85% dan unggas
dapat memanfaatkan dalam jumlah besar dalam ransum.
9.  B – S Dalam isi rumen masih terdapatsisa makanan yang belum tercerna
dan mengandung mikroorganisme rumen; perlu diperhatikan pula
faktor parasit yang merugikan.
10.  B – S Salah satu keunggulan protein hewani adalah kandungan vitamin B12
yang tidak terdapat dalam protein nabati.
4.4.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 4 yang
terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan
kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda
terhadap materi Kegiatan Belajar 4 ini.
MK TNK 306/Modul 1  39
Rumus :
Jumlah Jawaban Anda yang benar
Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :
90% - 100% = baik sekali
80% - 89% = baik
70% - 79% = sedang
<69% = kurang
Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 5. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda
masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 4, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.
MK TNK 306/Modul 1  40
4.5 Kegiatan Belajar 5
BAHAN BAKU PAKAN SUMBER MINERAL DAN BAHAN
PELENGKAP/TAMBAHAN
4.5.1 Uraian dan Contoh
A. Bahan Baku Sumber Mineral
Tepung Tulang
Salah satu sumber mineral makro pakan adalah tepung tulang. Tepung ini
mengandung yaitu kalsium 24% dan fosfor 12%. Namun, penggunaannya hanya
terbatas sebagai pelengkap jika nutrisi dalam komposisi bahan baku yang ada
tidak mencukupi. Pabrik pakan umumnya menggunakan meat and bone meal
(tepung daging dan tulang) sebagai sumber mineral dan protein sekaligus. Bahan
ini biasanya diimpor dari luar negeri. Penggunaan tepung tulang sudah jarang
dilakukan, apalagi sudah banyak sumber mineral sintetis yang diproduksi oleh
pabrik pembuat bahan baku pakan maupun farmasi.
Tepung Kerang
Tepung kerang merupakan sumber kalsium yang baik, kadarnya sekitar 38%.
Selain itu, di peternakan unggas petelur banyak digunakan sebagai grit atau
pembantu pencernaan di tembolok.
Kapur (Kalsium karbonat)
Kalsium karbonat dapat diperoleh di toko-toko bahan kimia, tersedia
dengan beragam kualitas. Kandungan kalsiumnya sebesar 38% dan harganya
relatif murah.
Dikalsium Fosfat (DCP)
Bahan baku ini diperlukan terutama untuk menambah kadar fosfor yang
terkandung dalam pakan ayam ras pedaging. Kandungan kalsiumnya sebesar 21%
dan fosfor 18,5%. Dikalsium fosfat bisadidapatkan di toko bahan kimia.
MK TNK 306/Modul 1  41
B. Bahan Baku Pakan Tambahan dan Pelengkop (Feed Additive Suplement)
Premix
Premix adalah sebutan untuk suatu suplementasi vitamin, mineral, asam.
amino, dan antibiotik, atau penggabungannya. Penggunaan premix mutlak
diperlukan jika nutrisi tersebut dalam pakan tidak lengkap.Premix bisa dibeli di
poultry shop atau langsung dibeli ke salesman produsen
Garam Dapur
Garam yang umum digunakan untuk bahan baku pakan adalah garam dapur
berbentuk serbuk yang mengandung yodiumsekitar 30-100 ppm. Garam dapur
(NaCI) sering digunakan sebagai tambahan untuk mencukupi kebutuhan kedua
mineral yang dikandungnya, yaitu natrium dan klor. Penggunaarmya dibatasi
sampai 0,25% saja, karena jika berlebihanakan mengakibatkan proses ekskresi
atau pengeluaran cairan kotoran meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan alas
litter menjadi sangat lembab dan basah. Akibatnya, akan timbul gangguan
penyakit bagi unggas yang dipelihara.
Koksidiostat (Coccidiostat)
Koksidiosis atau penyakit berak darah hampir pasti menyerang unggas,
terutama unggas dewasa. Untuk itu, kedalam pakan ayam perlu diberikan
koksidiostat untuk mencegah penyakit tersebut. Cukup banyak obat yang dapat di-tambahkan ke dalam campuran pakan untuk mencegah penyakit ini. Bahan yang
dapat dicampurkan adalah Bambermycine, Amprolium, Monensin, Nikarbazin,
Neomisin, Salinomisin, dan Sulfakuinoksalinyang tersedia dalam berbagai merek
paten. Dosis yang ditambahkan sekitar 500 ppm atau tergantung jenisnya. Perlu
diperhatikan, dosis dan aturan pakai harus sesuai demian aturan vang tertera di
kemasannva.
Anti jamur (Anti-Mold)
Apabila kita menggunakan bahan baku pakan yang mudah berjamur, seperti
bungkil kelapa, mutlak diperlukan penambahan bahan antijamur. Antijamur
mengandung asam propionat, amonium. propionat, asarn asetat, asarn sorbat, atau
MK TNK 306/Modul 1  42
kombinasi dari beberapa preparat tersebut. Dosis yang ditambahkan sekitar
0,09-0,1%. Penggunaannya harus sesuai dengan aturan.
Anti Racun (Antitoxic)
Bahan baku kelompok bungkil biasanya akan mudah berjamur. jamur ini
kemudian akan mengeluarkan racun bagiternak dan mengakibatkan pertumbuhan
ternak menjadi terhambat. Untuk dapat menetralkan kandungan racun perlu
ditambahkan bahan antiracun. Namun, antiracun ini tidak perlu digunakan apabila
kita sudah memberikan antijamur ke dalam bahan baku pakan. Artinya, dengan
tidak adanya jamur, tentu tidak muncul racun dari jamur tersebut.
Antioksidan (Antioxidant)
Antioksidan digunakan sebagai bahan pengawet pakan dan melindunginya
dari kerusakan akibat kelembapandan suhu lingkungan yang tinggi, pengaruh
cahaya matahari, dan reaksi-reaksi zat asam. Reaksi oksidasi akan menurunkan
kualitas pakan, merusak dan menghalangiterserapnya kandungan nutrisi dalam
pakan.
Ada beberapa jenis antioksidan yang biasa digunakan untuk membuat pakan
ayam ras pedaging, di antaranya BHT (Butylated Hydroxy Toluen),  BHA
(Butylated Hydroxv Anisol), EQ (Etoxyquin).  dan PC (Prophyl Gallate). Di
pasaran banyak tersedia antioksidan yang merupakan kombinasi dari bahan-bahan
tersebut. Antioksidan ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 125-250 ppm.
Perekat (Binder)
Bahan perekat atau binder diperlukan dalam proses pencetakan pelet.
Fungsinya sebagai pengikat antarkomponen bahan baku, sehingga tidak mudah
terurai atau berubah kembali menjadi bentuk tepung. Dalam pakan ayam ras
pedaging, binder tidak mutlak diperlukan, kecuali jika membuat pakan ikan.
Dengan pemberian uap atau pengukusan akan terbentuk pati yang berasal dari
bahan baku pakan ayam ras pedagingyang berfungsi sebagai perekat.
Saat ini banyak perekat sintesis yang bisa diperoleh di distributor atau
importir bahan kimia. Sebagai bahan perekat bisa juga digunakan bahan alami,
MK TNK 306/Modul 1  43
seperti tepung sagu, tepung tapioka, atau tepungterigu. Bahan perekat
ditambahkan dengan jumlah sekitar 2%.
Zat Pemberi Pigmen
Zat pemberi pigmen berfungsi untuk memberikan warna kuning di bagian
kaki dan kulit ayam ras pedaging, sehinggapenampilan fisiknya lebih menarik.
Sebagai pemberi warna bisa digunakan beta-karoten atau apokarotenoat dalam
bentuk murni (pure) atau sediaan prenVxseperti beta-karoten 10% dan
apokarotenoat 10%.
Penggunaan zat pemberi warna sedikit sekali, sekitar 20-30 ppin.
Harganya per kilogram sangat mahal, sehingga pemakaian bahan ini sebenarnya
tidak ekonomis. Jika akan digunakan, cukup ditambahkan ke dalam pakan
,fMis,her.
Jika penggunaan jagung kuning diatas 50%, pakan tidak perlu
ditambahkan pigmen ini lagi. Apabila masih kurang, bisa juga digunakan sumber
hijauan yang mempunyai kandungan xanthofil, seperti khlorela, rumput laut,
tepung alfalfa, dan tepung daun larntoro.
Pengharum (Flavour)
Untuk menambah daya rangsang ayam terhadap pakan, bisa juga
ditambahkan pengharum yang beraroma khusus, biasanya berasal dari ekstrak
tumbuhan. Pengharum ini dapat diperoleh di importir obat temak atau. toko kimia.
Bahan yang bisa dibeli di toko kimia seperti pengharum yang beraroma vanila.
Periggunaan pengharum dalam pakan tidak mutlak. Tidak sernua pakan kornersial
pabrik menggunakan pengharum. Dengan menggunakan bahan baku berkualitas
baik akan dihasilkan pakan dengan aroma yang khas. Proses pencetakan pelet
melalui tahapan penguapan (steam) akan memberikan aroma yang lebih
merangsang ayam ras pedaging untuk meningkatkan konsumsi pakan.
Pewarna Pakan (Feed Colour)
Secara naluri, ayam menyukai pakan berbentuk butiran dan berwarna
kuning. Karena itu, beberapa pabrik pakan menambahkan pewarna ke dalam
MK TNK 306/Modul 1  44
pakan. Zat pewarna pakan berfungsi untuk meningkatkan keinginan ternak dalam
mengonsumsi pakan. Pewarna pakan ini bisa diperoleh di toko-toko kimia.
Penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.
4.5.2 Latihan 5
a. Apa keunggulan bahan tepung tulang dan daging bila dibandingkan
dengan tepung tulang ?
b. Bilamanakah premix digunakan dalam pembuatan ransum ?
c. Jenis bahan apakah yang dipergunakan untuk melekatkan berbagai bahan
sehingga terbentuk pelet ?
4.5.3 Petunjuk Latihan 5
a.  Tepung tulang hanya mengandung mineral dan tidak mengandung
protein seperti pada tepung tulang dan daging.
b.  Ransum yang disusun seringkali masih kekurangan unsur-unsur tertentu
dalam jumlah kecil dan untuk memenuhinya dipergunakan pr emix.
c.  Untuk melekatkan berbagai bahan baku dalam suatu ransum dapat
digunakan bahan yang disebut binder.
4.5.4 Rangkuman
Sesuai dengan kategorinya, bahan-bahan yang termasuk dalam golongan
ini hanya bersifat tambahan dan sering juga dikatakan pelengkap. Bahan makanan
dalam kategori ini memang berfungsi menambah yang kurang dan melengkapi
yang belum lengkap. Misalnya kandungan lysine belum cukup, ditambahkan
lysine buatan pabrik obat. Jadi sesuai dengan kategorinyahanya bersifat tambahan
atau pelengkap saja. Bila sudah lengkap dan sudah cukup tentu bahan-bahan
dalam kategori ini tidak perlu, jadi tidak wajib. Dalam praktik hampir selalu
bahan-bahan dalam kategori ini selalu diikutsertakan dalam formula ransum
misalnya ransum ayam broiler, karenakebanyakan kualitas bahan makanan yang
digunakan memang tidak lengkap dan masih tidak cukup sesuai pertumbuhan
ayam broiler yang cepat itu.
MK TNK 306/Modul 1  45
Untuk mengatur kebutuhan energidengan menekan kandungan serat kasar
di bawah 4% menyebabkan hampir 100% formula sudah tersita untuk bahan
makanan sumber protein dan energi, itupun masih kurang. Akhirnya ditambahkan
minyak kelapa, tepung tulang, vitamin-mineral buatan pabrik, lysine kristal,
methionine kristal dan tryptophan kristal.Itulah dilema dalam menyusun ransum
khususnya ransum unggas yang seringkali tidak dapat lepas dari bahan-bahan
tambahan dan pelengkap ini.
4.5.5 Tes Formatif 5
Petunjuk : Lingkari B jika pernyataan benardan S jika pernyataan salah.
1.  B – S Peternakan unggas petelur banyak menggunakan tepung kerang
sebagai grit atau pembantupencernaan di tembolok.
2.  B – S Jika penggunaan jagung kuning di atas 50%, pakan masih
memerlukan penambahan pigmen.
3.  B – S Reaksi oksidasi akan menurunkan kualitas pakan, merusak dan
menghalangi terserapnya kandungan nutrisi dalam pakan.
4.  B – S Penggunaarmya garam dibatasisampai 0,25% saja, karena jika
berlebihan akan mengakibatkan proses ekskresi atau pengeluaran
cairan kotoran meningkat.
5.  B – S Fungsi pellet binder adalah sebagai pengikat antarkomponen bahan
baku, sehingga terebntuk pellet.
6.  B – S Proses pencetakan pelet melalui tahapan penguapan (steam) akan
memberikan aroma yang lebih merangsang ayam ras pedaging untuk
meningkatkan konsumsi pakan.
7.  B – S Anti jamur dan anti racun lebih baik dipergunakan bersama-sama
dalam pakan.
8.  B – S Zat pewarna dalam pakan dibutuhkan untuk meningkatkan minat
konsumsi pakan.
9.  B – S Bahan baku kelompok bungkil biasanya akan mudah berjamur.
jamur ini kemudian akan mengeluarkan racun bagi ternak dan
mengakibatkan pertumbuhan ternak menjadi terhambat.
10.  B – S Untuk mencegah serangan penyakit koksidiosis, pada ransum ayam
ditambahkan bahan yang disebut antikoksi.
4.5.6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban anda dengan Kunci Jawaban Test Formatif 5 yang
terdapat di bagian belakang modul ini. Hitunglah jawaban anda yang benar dan
kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda
terhadap materi Kegiatan Belajar 5 ini.
MK TNK 306/Modul 1  46
Rumus :
Jumlah Jawaban Anda yang benar
Tingkat Penguasaan = ----------------------------------------------- x 100%
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :
90% - 100% = baik sekali
80% - 89% = baik
70% - 79% = sedang
< 69% = kurang
Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, maka Anda telah
menguasai materi Pengetahuan Bahan Makanan Ternak dan dapat melengkapinya
dengan materi tambahan tentang pemilihan bahan pakan yang murah dan prinsip
forulasi ransum. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, maka
Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 5, terutama bagian yang belum Anda
kuasai.
MK TNK 306/Modul 1  47
CARA MEMILIH BAHAN PAKAN YANG MURAH
DAN PRINSIP MENYUSUN RANSUM
A. Cara Memilih Bahan Pakan yang Murah
Didalam usaha peternakan , biaya pakan merupakan biaya produksi
terbesar , sehingga peternak harus mampu menggunakan pakan secara efisien.
Untuk mencapai efisien menggunakan pakan yang tinggi dibutuhkan pengetahuan
tentang :
1.  Nilai gizi bahan pakan
2.  Efek pakan terhadap penampilan produksi
3.  Harga pakan pakan
Didalam memilih bahan pakan perlu dihubungkan antara faktor harga dan nilai
gizi, jadi harga bahan pakan harus dinilai berdasarkan kandungan energi dan
proteinnya dalam bahan kering, karena energi dan protein merupakan zat makanan
utama yang dibutuhkan ternak. Penilaian mahal dan murahnya harga pakan tidak
hanya didasarkan pada harga per-kilogramnya, tetapi harus juga didasarkan harga
energi dan protein yang dikandungnya ataupilihan atas dasar nilai gizinya.
Biaya tiap unit zat makanan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
Harga pakan per unit berat
Harga tiap unit zat makanan = --------------------------------- x Rp
Unit berat x % zat makanan
Contoh :
Harga rumput lapangan segar = Rp 25 / kg
Kandungan zat-zat makanan rumputlapangan sebagai berikut
BK = 20 % ; PK = 12 % ; TDN = 60 % ( Dry Matter Basis )
Hitung harga : BK, PK dan TDN per-kg
Hitungan :
25
-  Harga BK = ------- x Rp 1 = Rp 125/ kg
0,20
MK TNK 306/Modul 1  48
125
- Harga PK =------- x Rp 1 = Rp 1041,67/ kg
0,12
125
- Harga TDN=------ x Rp 1 = Rp 208,33/kg
0,60
Jadi untuk menghitung harga zat-zat makanan , kita harus mengetahui
komposisi zat-zat makanan dari bahan tsb dan harga bahan makanan itu . Bahan
makanan dikelompokkan berdasarkan harga TDN dan proteinnya dengan
menggunakandiagram venn, yaitu suatu cara untuk mengelompokkan bahan
makanan berdasarkan harga per kg TDN dan proteinnya.
Bahan makanan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
Kelompok 1 : Terdiri atas bahan-bahan makanan sumber energi murah dan
protein Murah
Kelompok 2 : Sumber energi mahal dan protein murah
Kelompok 3 : Sumber energi mahal dan protein mahal
Kelompok 4 : Sumber energi murah dan protein mahal
Didalam memilih bahan makanan, harus kita tekankan pada bahan
makanan di kelompok ( kuadran ) 1. Bilabahan makanan darikelompok 1 tidak
dapat memenuhi kebutuhan ternak akan protein, maka bahan makanan
dikelompok 2 masih layak digunakan apabila kebutuhan energi tidak dapat
dipenuhi dari bahan makanan dikelompok 1, maka sebagai sumber energi murah
dapat digunakan bahan makanan dari kelompok 4. sedangkan bahan makanan
yang termasuk kedalam kelompok 3 sebaiknya jangan digunakan. Tabel berikut
ini adalah harga berbagai bahan makanan dan harga tiap kilogram bahan kering
(BK), TDN dan protein kasar (PK) dengan perhitungan seperti contoh diatas.
MK TNK 306/Modul 1  49
Tabel Harga tiap kilogram TDN dan protein dari berbagai makanan .
Kandungan zat makanan (%)  Harga ( Rp / Kg )  Bahan makanan  Harga
( Rp/Kg)  BK  TDN  PK  BK  DN  PK
Jagung  300  86,8  78,2  10,8  346  442  3204
Dedak halus  100  87,7  67,9  10,0  114  168
1140
Onggok  125  79,8  78,3  1,9  157  201
8263
Polard  125  88,5  69,2  10,5  141  204
1343
Bungkil kelapa  200  88,6  78,7  21,3  226  287
1061
Bungkil kacang
tanah
500  90,2  80,9  45,1  554  685  228
Urea  200  100,0  -  287,5
(46%N)
200  -
Berdasarkan urutan harga TDN nya maka terdapat 4 bahan makanan
yang termasuk kedalam kelompok sumberenergi murah yaitu dedak halus,
onggok, polard, dan bungkil kelapa , sedangkan jagung dan bungkil kacang tanah
tergolong kedalam kelompok sumber energi mahal.
Berdasarkan urutan harga proteinnyamaka terdapat 4 bahan makanan
sumber protein murah yaitu urea , bungkil kelapa, dedak halus, dan bungkil
kacang tanah, sedangkan jagung,onggok dan polard tergolong kelompok sumber
protein mahal.
Dari tabel tersebut terkihat bahwa bahan yang tidak layak dipakai adalah
jagung (energi mahal dan protein mahal). Sedangkan bahan yang ideal kita
gunakan berdasarkan harga TDN dan proteinnya adalah dedak halus dan bungkil
kelapa. Onggok dan polard layak kita pertimbangkan sebagai sumber energi
murah, sedangkan sebagai sumber protein murah dapat dipergunakan urea dan
bungkil kacang tanah.
Demikian juga dengan hijauan dapat kita perhitungkan dan kita
kelompokkan seperti cara diatas, sehingga kita bisa memilih sumber hijauan yang
ideal dipakai sebagai bahan makanan yang murah ditinjau dari harga energi dan
proteinnya. Yang penting disini adalah kita harus mengetahui komposisi zat-zat
makanan yang terkandung dalam bahan yang akan kitÿÿÿÿtuÿÿ. batelabamemilih
bahan maka kita dapat meram bahannya untuk mÿÿK)sun ransum yang seimbang.
MK TNK 306/Modul 1  50
B. PRINSIP MENYUSUN RANSUM SEIMBANG (kasus pada ternak
ruminansia)
Penyusunan ransum ternak adalah cara meramu bahan-bahan pakan ternak
Untuk memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tingkat produksi yang
diinginkan, pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa zat-zat makanan
utama yang dibutuhkan oleh ternak Ruminansia dan harus mendapat perhatian
terlebih dahulu adalah bahan kering, protein, energi, kalsum dan posfor . cara
terbaru dalam menyusun ransum adalah didasarkan pada 100 % bahan kering
(dry matter basis), walaupun demikian masih memungkinkan untuk merubahnya
kedalam bentuk yang tersedia (as-fed basis).
Dalam menyusun ransum seimbang (balance ration) dibutuhkan data-data :
1.  Data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .
2.  Data komposisi zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan
untuk menyusun ransum.
Tahapan-tahapan didalam menyusun ransumseimbang adalah sebagai berikut :
1.  Harus megetahui kondisi ternak yang akan diberi pakan apakah ternak dalam
keadaan pertumbuhan ,produksi atau kerja.
2.  Siapkan data kebutuhan ternakakan zat-zat makanan .
3.  Tentukan bahan-bahan pakan yang akandigunakan dalam menyusun ransum,
dengan mengingat syarat-syaratnya.
4.  Siapkan data komposisi zat-zat makanan dari bahan-bahan pakan yang akan
digunakan.
5.  Disusun daftar bahan –bahan pakan yang digunakan dan komposisi zat-zat
makanannya ,dengan membuatnya kedalam bentuk tabel.
6.  Diperhitungkan ransum seimbang .
7.  Diteliti susunan zat-zat makanan ransum seimbang ,apakah sudah sesuai
dengan kebutuhannya .
8.  Apabila ransum telah seimbang ,cek kembali dengan menjawab pertanyaan –
pertanyaan sebagai berikut :
MK TNK 306/Modul 1  51
a.  Apakah ada kelebihan zat-zat makanan didalam ransum ,bila ada
sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap ternak . bila kekurangan
zat-zat makanan ,apa pengaruhnya terhadap ternak dan apa yang
harus anda kerjakan .
b.  Apakah ransum tersebut telah merupakan ransum yang murah, tetapi
telah memenuhi syarat .
c.  Perlukah ditahbah pakan tambahan pada ransum tersebut seperti
garam,mineral,kapur dan sebagainya.
Rangkuman
Didalam memilih bahan pakan perlu dihubungkan antara faktor harga dan
nilai gizi, jadi harga bahan pakan harus dinilai berdasarkan kandungan energi dan
proteinnya dalam bahan kering, karena energi dan protein merupakan zat makanan
utama yang dibutuhkan ternak. Penilaian mahal dan murahnya harga pakan tidak
hanya didasarkan pada harga per-kilogramnya, tetapi harus juga didasarkan harga
energi dan protein yang dikandungnya ataupilihan atas dasar nilai gizinya.
Penyusunan ransum ternak adalah cara meramu bahan-bahan pakan ternak
Untuk memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tingkat produksi yang
diinginkan, pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa zat-zat makanan
utama yang dibutuhkan oleh ternak Ruminansia dan harus mendapat perhatian
terlebih dahulu adalah bahan kering, protein, energi, kalsum dan posfor . cara
terbaru dalam menyusun ransum adalah didasarkan pada 100 % bahan kering
(dry matter basis), walaupun demikian masih memungkinkan untuk merubahnya
kedalam bentuk yang tersedia (as-fed basis).
Dalam menyusun ransum seimbang (balance ration) dibutuhkan data-data :
1.  Data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .
2.  Data komposisi zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan untuk
menyusun ransum.
MK TNK 306/Modul 1  52
Kunci Jawaban Tes Formatif
a.  Kegatan 1
No.  Jawaban
1  S
2  B
3  B
4  B
5  B
6  B
7  B
8  S
9  B
10  S
b.  Kegatan 2
No.  Jawaban
1  S
2  S
3  B
4  B
5  S
6  B
7  B
8  B
9  B
10  B
c.  Kegatan 3
No.  Jawaban
1  B
2  S
3  S
4  B
5  B
6  S
7  B
8  B
9  B
10  S
d.  Kegatan 4
No.  Jawaban
1  B
2  B
3  S
4  S
5  B
6  B
7  B
8  S
9  B
10  B
e.  Kegatan 5
No.  Jawaban
1  B
2  S
3  B
4  B
5  S
6  B
7  S
8  B
9  B
10  S
MK TNK 306/Modul 1  53

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar